Tag: kesehatan bayi

5 Alasan Perlu Melakukan Sunat Bayi

5 Alasan Perlu Melakukan Sunat Bayi

Sunat bayi memang memberikan banyak manfaat. Namun, tidak semua kondisi anak direkomendasikan untuk melakukan sunat. Jika kondisi si kecil secara medis tidak memungkinkan, orangtua bisa menunda sunat pada bayi. 

Bayi biasanya diperbolehkan sunat bayi sejak berusia 4 hari. Namun, ada beberapa anjuran waktu yang baik untuk melakukan tindakan ini. Jika si kecil dilahirkan di rumah sakit, umumnya  sunat bayi dapat dilakukan pada 48 jam setelah dilahirkan. Jika lahir di klinik, bayi dapat  disunat saat usianya 7-8 hari. Jika si kecil lahir di rumah, prosedur ini bisa dilakukan saat usia 2 minggu. 

Waktu inilah yang tepat untuk melakukan prosedur ini, karena jika semakin bayi beranjak besar, ia menjadi rentan mengalami pendarahan pascasunat. Hal ini juga bisa berisiko terjadinya komplikasi penyakit lain. Sunat lebih baik dilakukan pada si kecil yang berusia dibawah 1 tahun untuk meminimalisir risiko penyakit dan komplikasi anestesi yang mungkin bisa timbul. Tentunya prosedur ini tidak dapat langsung dilakukan, terdapat beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan, seperti kondisi kesehatan tubuh anak dan kelamin dalam keadaan normal dan tidak sedang terjadi masalah apapun. Jika hal tersebut sudah terpenuhi, maka dapat segera dilakukan.

Selain kurangnya risiko pada bayi, untuk si kecil yang di bawah 1 tahun pun memiliki banyak manfaat untuk bayi lho, beberapa manfaatnya, seperti :

1. Kebersihan kelamin bayi

Sunat bayi dilakukan dengan cara membuang kulit di ujung kelamin bayi (kulup), hal ini untuk memudahkan pembersihan penis bayi dari adanya kotoran bayi. Sehingga kebersihan dan kesehatan bayi tetap terjaga.

2. Menurunkan risiko penyakit infeksi saluran kemih

Sunat yang dilakukan saat masih bayi, cenderung memiliki risiko terjadinya infeksi saluran kemih yang lebih rendah dibandingkan yang tidak di sunat saat bayi. Hal ini dikarenakan penis yang telah disunat lebih mudah untuk dijaga kebersihannya. Ini menjadi penting karena jika infeksi terjadi berulang kali, bisa berdampak kepada masalah organ lain seperti, ginjal hingga septikemia (infeksi darah).

3. Mencegah terjadinya permasalahan penis bayi

Kulit ujung penis (kulup) bayi yang tidak disunat, bisa menyebabkan terjadinya fimosis atau kulup yang melekat kuat pada kepala penis. Meskipun ini merupakan kondisi yang normal terjadi pada bayi dan anak-anak. Namun, tentunya akan membuat ketidaknyamanan pada bayi. Selain itu, risiko terjadinya peradangan pada kulup pun dapat terjadi.

4. Memperkecil risiko penyakit kanker penis

Meskipun kanker penis ini jarang terjadi. Namun, melakukan sunat bayi bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi adanya risiko bayi terkena kanker penis nantinya. Kasus penyakit kanker penis ini sangatlah jarang ditemukan pada bayi yang telah di sunat. Selain itu, sunat bayi dipercaya efektif untuk menurunkan risiko anak dari kanker prostat ketika dewasa. Tak hanya untuk laki-laki saja, tapi kanker serviks jarang terjadi pada perempuan yang pasangannya sudah disunat sejak bayi. 

5. Manfaat sunat bayi ketika anak dewasa nanti

Walaupun prosedur ini dilakukan, tapi ternyata manfaatnya bisa berdampak sampai bayi beranjak dewasa nanti. Penelitian menemukan adanya hubungan antara sunat dengan kepuasan seksual. Penis yang telah disunat menjadi lebih sensitif secara seksual dibandingkan dengan yang tidak sunat. Hal ini perlu menjadi pertimbangan orangtua, karena kelak anak akan menjadi orang yang dewasa, hidup berkeluarga, dan mandiri.

6. Mencegah terjadinya penyakit menular seksual

Sunat bayi memberikan manfaat jangka panjang seperti memperkecil risiko terjadinya penyakit menular seksual (HIV). Meski begitu, tetap diperlukan perilaku seks aman dengan menggunakan kondom sebagai pencegahan dan perlindungan ganda, serta tidak berganti-ganti pasangan seksual.

Sunat bayi ini memang sangatlah bagus untuk dilakukan, banyaknya manfaat yang ditimbulkan serta ajaran agama yang menganjurkan. Namun, tetaplah orangtua perlu memperhatikan kondisi bayi sebelum membuat keputusan untuk menyunat bayinya. Jika bayi mengalami prematur, adanya kelainan genetik, bayi mengalami gangguan pembekuan darah, sebaiknya perlu di pertimbangkan lebih jauh dan cobalah berkonsultasi dengan dokter agar menemukan keputusan yang tepat dan baik untuk kesehatan bayi.